BELAJAR KELOMPOK DALAM DISKUSI PIAGAM MAIYAH
| Potret JM yang sedang khusyu' mendengarkan penjelasan narasumber. |
Mengawali tahun dalam
Bangbang Wetan Januari ini dengan kegiatan yang berbeda dari biasanya, apabila
biasanya jemaah BBW hanya datang, duduk, bershalawat bersama, mendengar
narasumber yang sedang berbicara di depan, dan tanya jawab. Maka, ada yang
berbeda di Bangbang Wetan pertama di tahun 2018 ini : yakni diskusi perihal
piagam Maiyah, yang sedang digaungkan oleh para penggiat Maiyah di nusantara.
Sehingga, setiap simpul maiyah di mana pun di nusantara juga sedang merumuskan
hal yang sama dalam pertemuan mereka.
Bangbang wetan malam itu
diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran, kemudian bershalawat bersama
(rutinitas seperti biasa), kemudian kebetulan dihadiri oleh Pak Men Band dengan
vokalisnya yang khas dengan suara serak itu. Ada beberapa nomor lagu dibawakan
sembari menunggu jemaah datang. Kemudian, forum diawali dengan obrolan ringan
dari para penggiat Bangbang Wetan seputar merchandise BBW, Buletin Maiyah Jawa
Timur, dan Sanabila. Yang barangkali saya menangkapnya sebagai sinyal sejenis
open recruitment atau mencari sukarelawan untuk membantu kerja ketiganya, yang dilempar
kepada jemaah BBW. Mengingat jumlah penggiat yang dapat dikatakan tidak terlalu banyak
jika tentunya dibanding dengan jumlah keseluruhan jemaah BBW.
Setelah obrolan tersebut
selesai, barulah beberapa penggiat memberikan penjelasan bahwa kegiatan
berikutnya adalah diskusi mengenai Piagam Maiyah. Ini tentu menimbulkan
beberapa reaksi dalam benak jemaah, ada yang memang sudah mendengar atau
membaca mengenai Piagam Maiyah, karena beberapa akun simpul maiyah telah
menyinggungnya di media sosial, termasuk akun media sosial Bangbang Wetan, ada
yang benar-benar paham karena sudah mengikutinya di PadhangMbulan dan ada yang
sama sekali belum paham atau baru mendengar malam itu tentang Piagam Maiyah.
Sehingga, ada jemaah BBW yang kebingungan mengenai apa yang harus dilakukan
setelah ini. Sambil dijelaskan, beberapa penggiat lainnya berkeliling di antara
jemaah mengedarkan 3 lembar kertas dan 1 bolpoin sebagai alat diskusi. 3 lembar
kertas tersebut berisi semacam Press release tentang Piagam Maiyah yang
langsung diinstruksikan dari Yogyakarta, kemudian tabel berisi contoh usulan
Piagam Maiyah, dan tabel kosong untuk mengisi usulan seperti contoh di tabel
sebelumnya. Tabel contoh usulan tersebut berisi tentang nama pengusul, studi
kasus, sikap seharusnya, dan draft butir piagam.
Jemaah BBW diminta membuat
lingkaran-lingkaran kecil atau kelompok diskusi yang terdiri dari 8-10 orang,
memang begitulah barangkali karakter orang maiyah, yang luwes, fleksibel,
melawan arus, diminta sekian melingkarlah hanya 4 orang, kadang 5 atau 6 orang,
tidak memenuhi permintaan. Hehehe.
Dari kelompok-kelompok
tersebut dimintalah 1 perwakilan, sampai terkumpul 10 orang untuk naik ke atas
panggung dan berdiskusi di sana. Sementara, saya bersama kelompok saya di
pendopo terdiri dari 7 orang. Dengan waktu yang singkat kurang lebih hanya
20-25 menit, sambil sesekali menyeruput kopi, ada 3 usulan yang tertulis.
Kelompok kami menggunakan metode dengan membebaskan siapapun yang memiliki
studi kasus untuk menuliskannya, kemudian masing-masing anggota kelompok
membaca studi kasus yang sudah ditulis untuk selanjutnya mendiskusikan isi
tabel sikap seharusnya. Sementara, bagi kami draft butir piagam hanyalah
kalimat padat yang meringkas isi tabel sikap seharusnya.
Bagi kami pengalaman yang
berbeda mungkin akan menimbulkan sikap yang berbeda, meskipun sebetulnya dapat
dikatakan cara berpikir kami hampir sama yaitu menggunakan cara berpikir Maiyah
secara natural atau mengalir begitu saja. Sehingga, sikap-sikap yang dihasilkan
pun tidak jauh berbeda, dan diskusi tidak berlangsung alot. Ketika waktu sudah
habis, terkumpullah 3 usulan dari hasil diskusi. Tetapi diskusi dalam kelompok
kami belum selesai, 4-5 orang termasuk saya masih asyik berdiskusi mengenai
hal-hal lain yang dapat dikatakan sebagai studi kasus yang mestinya juga bisa
dituliskan tetapi waktu terbatas. Misalnya mengenai apa itu fatwa, makanan
haram yang hidup di dua alam, dan sikap dalam menghadapi pemberitaan berbagai
hal oleh media. Diskusi lanjutan itu berlangsung ketika beberapa je maah sedang
mewakili kelompoknya untuk memaparkan hasil diskusinya di atas panggung.
Sehingga, saya pun tidak mengetahui keseluruhan pemaparan hasil diskusi dari
para perwakilan kelompok tersebut.
| Mas Sabrang memberikan penjelasan sebelum penutupan BangbangWetan Januari. |

Komentar
Posting Komentar