Anomali Akhir Tahun (Bagian 1)
No one think that i would be this crazy for 7 amazing boys from this country :)
![]() |
| Sumber foto: money.kompas.com |
![]() |
| Boys Over Flowers. Sumber foto: google |
Nah setiap Kdrama--layaknya film-film apa pun--pasti punya soundtrack, dari situlah sedikit banyak aku sudah berkenalan dengan dunia kpop, meskipun mungkin ibaratnya hanya seupilnya wkwkwk. Sebab, yang kutau paling hanya judul dan penyanyinya saja dan aku tidak cukup tertarik untuk menghapal wajah-wajah penyanyinya, apalagi untuk mengikuti hype-nya. Anggap saja keterbatasan di masa itu membuatku sibuk fokus pada hal-hal lainnya wkwkwk (sok iye). Apalagi aku suka sekali mendengar instrumen biola, salah satu yang melekat di kepalaku dari drama tersebut adalah soundtrack instrumen biolanya.
Beberapa dari kalian mungkin sudah tau betul kalau aku aktif di Twitter, meski sempat vakum sekira tahun 2015-2016. Aku bahkan lupa tepatnya kapan wkwkwk. Mengapa tiba-tiba aku ngomongin Twitter? bukan tanpa ada maksud dong tentunya. Jadi, sekembalinya aku di Twitter, memang aku merasakan ada perubahan. Seperti vakumnya Raditya Dika dan Pocooong dan tidak ada lagi main hestek-hestek sampai trending di akhir pekan yang diinisiasi para selebtwit dan orang-orang Nyunyu.com (kebanyakan). Seingatku ketika aku kembali ke Twitter, yang membuatku merasa asing adalah trending yang didominasi oleh para Kpopers. Tentu saja, aku yang belum sepenuhnya kecemplung di dunia kpop merasa sangat asing dengan istilah atau nama-nama yang muncul di linimasa. Saat itu, masih setahun sebelum tagar perpolitikan mulai ikut mendominasi bersama kpop. Oh, dan tentu dari jajaran mutualku pun ada para kpopers.
![]() |
| Sumber ilustrasi: AList |
Kenapa belum sepenuhnya? Ibarat kata aku sedang duduk di tepi kolam, aku menggantungkan kakiku di dalam air, mungkin hanya seukuran mata kaki saja. Namun, setidaknya aku sudah tau seberapa dingin dan seperti apa rupa airnya. Aku mengenal nama 2PM sejak SMP, sekadar tau satu lagu mereka yang saat itu memang sangat hits yaitu Hands Up. Apakah aku tau agensi yang menaungi mereka? Betul, tentu saja tidak wkwkwk. Begitu pula saat aku dengar nama SNSD (dengan nama Mbak Yoona yang sering disebut-sebut), Super Junior, dan BigBang. Siapa yang tidak langsung ikut bernyanyi atau sekadar bersenandung saat dulu tiba-tiba terdengar lagu Sorry Sorry atau Mr. Simple di ruang publik? wkwkwk. Jujur saja, sejak dulu yang kuhafal dari personel Suju ya hanya Siwon, aku pun tidak pernah mengklaim diriku adalah seorang Elf. Aku hanya orang yang suka dua lagu Suju tadi dan suka Siwon. Entah kenapa sejujurnya saat itu aku termasuk yang enggan lebih dalam terjun ke dalam Kpop hanya karena takut tidak bisa membedakan wajah-wajah personelnya karena personel yang sangat banyak. Tidak seperti dua boygroup kesukaanku yang namanya sudah mendunia lebih dulu: Westlife dan F4. Alasan itu terdengar konyol bukan? Apalagi di masa sekarang, mungkin aku sudah dicap rasis. Padahal itu hanya sekadar masalah pribadi dan memang aku tidak ada niat sedikitpun untuk bersikap rasis.
Saat di bangku SMA aku fokus fangirling pada One Direction yang saat itu sedang di masa emasnya. Aku cukup mengikuti perkembangan musik mereka saat itu, meski belum sampai punya printilan-printilan yang berhubungan sama mereka. Aku termasuk yang sangat selektif untuk bisa mengatakan aku seorang penggemar seseorang atau sebuah kelompok, sebelum aku betul-betul beberapa kali 'riset' dan merasa bahwa hatiku ikut jatuh sampai level 100 persen. Ibarat kunci helm, harus sampai berbunyi KLIK!
![]() |
| One Direction di masa debut. Sumber foto: Google |
Namun, aku sudah tak begitu mengikuti perkembangan mereka saat Zayn Malik memutuskan hengkang, sebab bisa dikatakan Zayn Malik adalah bias pertamaku di 1D. Terlebih setahun kemudian mereka memutuskan bubar. Aku merasakan hal yang berulang, seperti saat Westlife--senior mereka--juga bubar pada 2012. Jadi, bisa dikatakan saat Westlife bubar, tidak lama kemudian aku seperti mendapat obat dengan menemukan One Direction. Lima anak muda yang berasal dari negara yang sama, Irlandia. Kesamaan mereka membuatku tidak ragu untuk akhirnya mengidolakan 1D.
Kok melebar meleee?
Oke, baik. Mari kulanjutkan dongeng panjang ini. Selama 2016, saat aku kembali ke Twitter dan pasca bubarnya 1D, aku tidak begitu spesifik mengikuti perkembangan musik siapa pun. Sepertinya. Nampaknya aku lebih rajin memutar lagu-lagu lama yang menjadi favoritku dari musisi mana pun. Istilah Kpop yang paling sering kudengar saat itu adalah nama EXO, SHinee dan ARMY. Siapa itu BTS? Apa itu BTS? Aku bahkan belum tau kalau mereka exist. Poor me back then, huhu nangis sekebon. Jadi, boleh kukatakan kalau EXO mengalami puncak kejayaannya saat itu (eh maaf sotoy aja sih ini) (meski lagi-lagi saat itu aku tidak tau agensi mana yang menaungi mereka wkwkwk, sungguh aku tidak paham perkara agensi-agensi ini, gais. Karena istilah agensi kurang dipakai 'kan di negara kita?) Sebetulnya, ada beberapa lagu yang sering kudengar di ruang publik dan ketika aku menjumpai lagu-lagu itu, aku akan otomatis ikut menyanyikan, meski tidak pernah tau judulnya, musisinya, apalagi agensinya. Misalnya, lagu iKon yang berjudul Love Scenario, aku baru mengetahuinya saat menonton MAMA 2020 (mianhae).
Di tahun yang sama juga, aku mengenal istilah ARMY dari trending Twitter. Seingatku aku hanya tau bahwa ARMY itu fandom Kpop tanpa tau nama idola mereka. Bisa kukatakan juga rasanya ARMY ini mendominasi fans Kpop, sehingga orang awam sepertiku waktu itu akan mengira bahwa ARMY ini representasi dari fans Kpop keseluruhan. Padahal tidak begitu, gaiiis. Sayangnya, setiap kali keramaian itu muncul di linimasaku, yang kudapat hanyalah imej buruk ARMY. Aku, si pecinta damai, terang saja tidak mungkin kepo berlanjut soal mereka dan idola mereka. Saat itu di otakku hanya, ah fandom ini rame terus, war terus hadeeeh capek liatnya. Aku cuma tidak suka ribut, tapi aku tidak benci mereka sama sekali karena aku tidak ada urusan dengan mereka. Aku juga tidak berasumsi macam-macam, karena aku tidak memperhatikan lebih dalam, dan aku menghindarkan diriku dari prejudice. Terlebih tujuanku kembali di Twitter adalah untuk mencari tempat bersembunyi yang menenangkan, nyaman, dan memberi rasa aman dan damai, kalau aku kepo dengan keributan, mana mungkin tujuanku tercapai 'kan?
Aigooooo, panjang juga nih. Kelanjutan dari cerita tidak pentingku ini disambung di tulisan berikutnya saja yaaa. Supaya tidak bosan dan biar aku terlihat agak produktif gitu, hehehe. Tungguin kalau kalian kepo, kalau enggak sih ya sudah, aku akan sedih dan tidak apa-apa, fufufu.
CIAOOOO!
![]() |
| Sumber ilustrasi: google |






Komentar
Posting Komentar