 |
| sumber: google |
Olaaaaaaa, aku kembali!
Setelah hampir dua bulan sudah aku tidak menyapa di sini karena padat dan magernya akuuu hahaha. Karena sebetulnya banyak cerita yang bisa kubagi di sini di sepanjang Agustus, tapi untuk Agustus ini aku akan membagi satu cerita yang paling berkesan bagiku.
Aku yakin kalau kalian semua yang membaca tulisan ini pastilah punya rumah. Rumah yang memiliki alamat di sebuah jalan ataupun rumah yang tidak memiliki alamat terdaftar. Menurut KBBI, rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal. Sebuah bangunan yang kerap kita lukiskam dalam buku gambar semasa sekolah dasar. Ketika ditanya, "rumahmu di mana?", pasti jawaban yang keluar adalah sebuah alamat. Sebuah titik yang mampu dikenali satelit dari luar Bumi. Tidak salah, sebab pemahaman masa kanak-kanak memang masih terbatas (dan dibatasi), imajinasinya saja yang tidak terbatas (tapi tetap dibatasi).
Di luar KBBI, rumah memiliki makna yang bebas kita tafsirkan. Bagiku rumah bukan sekadar bangunan, tapi banyak hal bisa menjadi rumah. Aku menemukan rumah pada diriku, buku, langit, puisi, musik, sekelompok orang, alam, seseorang, dan bahkan pada hal-hal yang tidak berkorelasi dengan rumah itu sendiri. Banyak juga yang memiliki rumah, tapi tetap saja tidak pernah merasa pulang bahkan ketika sudah di dalamnya. Tidak ada yang salah juga dengan hal itu.
Hal itulah yang hendak kami sampaikan melalui pameran fotografi virtual bertajuk Rumah (When You Feel Like Home) yang diselenggarakan alumni UKM yang kuikuti semasa kuliah, yaitu UKM Seni Fotografi. Atas dasar inisiatif alumni, pameran virtual ini terselenggara di bulan Agustus via Instagram. Melalui lensa kami masing-masing, kami menyampaikan pandangan kami dalam memaknai "Rumah". Hasilnya pun tentu saja beragam, berbagai genre foto bisa kalian temukan, dan tentunya tidak ada foto yang paling benar atau salah. Kalian masih bisa mengunjunginya di akun @pameranvirtual_rumah.
Aku pun berkesempatan mengikutinya kemarin. Ada dua foto yang kusetor, sebetulnya itu adalah foto-foto lama. Sekira lima sampai enam tahun yang lalu. Kedua foto ini sama sekali tidak mengandung sebuah bangunan. Aku juga tidak melalukan retouch untuk foto yang kupasang di sini, tapi untuk yang kusetorkan, aku melakukan sedikit suntingan pada warna dan potongan.
Foto pertama kuambil pada suatu pagi di kawasan hutan bakau di Surabaya. Memang di sana ada sejumlah monyet yang berkeliaran bebas. Saat itu aku beruntung bisa menemukan momen ini. Jadi, kupikir banyak juga orang yang setuju bahwa pelukan induk salah satu spesies primata kepada anaknya ini bisa dimaknai sebagai rumah. Selayaknya banyak dari kita yang menemukan rumah dalam pelukan ibu. Itulah yang mendasariku untuk menyetorkan foto ini tanpa keragu-raguan.

Sedangkan, foto kedua kuambil pada Oktober 2016 di Cirebon. Kalau tidak salah aku memotretnya dari dalam bus, saat itu aku sedang mengikuti kegiatan Jambore Fotografi Mahasiwa Indonesia ke sembilan. Aku memang menyukai genre foto Human Interest. Sejujurnya, sejak dari awal foto ini kupindahkan dari memori ke laptop, aku tidak pernah sama sekali mempublikasikannya. Namun, entah kenapa kemarin terpikir untuk menyetornya ke pameran. Karena menurutku ini salah satu fenomena yang kerap kali kita jumpai di jalan, saat orang-orang yang berprofesi sebagai supir sering menggunakan kendaraannya bukan hanya untuk mencari pendapatan, melainkan juga tempat melepas lelah. Kendaraan itu mereka gunakan untuk mendapat lelah sekaligus melepasnya di sana.
 |
| Inilah tampilan fotonya di pameran. |
 |
| Aku mengubahnya menjadi hitam putih. |
Pameran itu berlangsung sampai tanggal 29 Agustus 2021. Acara ditutup dengan pertemuan virtual melalui Zoom, sayangnya saat itu aku tidak bisa mengikutinya karena mengalami screen fatigue, hehehe. Alhasil, malam harinya aku dikejutkan oleh sebuah pesan dari teman seangkatan yang mengatakan fotoku terpilih. Terpilih apa? Aku benar-benar clueless, sebab memang setahuku tidak ada ajang kompetisi apa pun sejak awal dalam pameran tersebut. Aku pun mengikutinya hanya karena ingin ikut meramaikan dan karena..kangen sekali dengan pameran :') Ternyata dalam pertemuan virtual, ada salah satu alumnus yang mengusulkan kepada Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah, untuk memilih lima karya foto terfavorit. Aku tentu saja kaget. Karena memang belum mendapat kabar resmi dari panitia. Kemudian, aku mengecek di Instagram dan benar saja fotoku terpilih, foto pertama.
 |
| Diambil dari kiriman @pameranvirtual_rumah di linimasa. |
Aku tidak peduli apa hadiahnya, mengetahui kenyataan itu saja rasanya seperti mendapat hadiah. Pasalnya ini untuk pertama kalinya aku mendapat penghargaan dalam bidang fotografi selama bertahun-tahun memotret. Karena sejujurnya aku selalu merasa hasil fotoku biasa saja, tidak layak dilombakan. Alhasil, aku sangat jarang mengikuti lomba foto, karena aku selalu insecure. Aku hanya berani mengikuti pameran yang diselenggarakan UKM-ku sendiri. Makanya aku mengabadikannya di sini, hehehe.
Kalau kalian, bagaimana kalian memaknai "rumah"?
Komentar
Posting Komentar