Ambisi yang Masih Ambigu
‘hoams’, 3 kali sudah aku menguap. Tapi masih ku kuatkan mata ini, malam ini seperti malam-malam sebelumnya, memegang bolpen, berhadapan dengan buku untuk sekedar menulis novel atau mungkin bikin puisi. Jam dinding dengan gagahnya menunjukkan pukul 22.45, tapi sama sekali belum membuatku takluk untuk cepat-cepat pergi ke alam mimpi.
Aku terbiasa tidur larut, demi untuk mengerjakan tugas, membuat novel, puisi atau ya memang belum bisa tidur saja. Akhirnya terkadang esok paginya aku agak buru-buru ke sekolah, sepertinya santai. Tapi karena letak tempat parkirku ke sekolah masih harus jalan kaki, jadi sedikit memakan waktu menuju jam masuk sekolah. Ya, aku tidak bisa parkir di sekolah karena umurku belum genap 17 tahun. Yah tapi anggap saja, 17 tahun yang lalu tepatnya 22 november seorang bayi perempuan di lahirkan dalam keadaan sehat dan normal. Malam itu sekitar jam 12 malam, menjadi kali pertama untukku menghirup udara dan menyapa isi dunia yang selama ini aku reka-reka saja saat di dalam kandungan ibuku.
Saat ini aku belajar di salah satu sekolah menengah kejuruan negeri ternama di surabaya, dan tercatat dalam database jurusan teknik komputer jaringan. jurusan yang ternama pula di sekolah, entah karena apanya. Aku, sebenarnya tak menginginkan ini. Tapi tuhan sudah merencanakan ini hingga detik ini pula. Aku menjalani kehidupanku selayaknya remaja yang lain, bersekolah, bermain, beribadah, online dan beraktivitas dengan teman-teman kecilku, sekedar bolpen dan buku dengan kertasnya yang masih bersih. Aku mencintai teman-teman kecilku, mereka selalu ada saat sebuah inspirasi melintas di pikiranku. Inspirasi yang aku yakin dan aku harap akan membawaku menuju gerbang kesuksesan. “Menjadi penulis kondang seperti kak sefry…” tekadku dalam hati.
Sedikit ada pikiran mustahil jika orang-orang tau keinginanku, apalagi dengan jurusan yang aku pilih, lebih tepatnya yang di pilihkan orang tuaku. Terkadang aku sedikit iri dengan teman yang bisa masuk jurusan sesuai keinginannya masing-masing, yang tentunya beda denganku. yah, aku jalani saja dulu toh ke depannya aku masih bisa merancangnya tapi tetap tak lepas dari takdir tuhan.
10 oktober, beberapa hari yang lalu adalah ulang tahun abang. Yaa, abang toga. Seorang penyiar radio di salah satu radio yang (lagi-lagi) ternama di surabaya. Aku bertekad untuk main ke studio ebs fm, tapi waktu tidak memungkinkan. Pulang sekolah saja jam 3, dia siarannya pagi, ahh yasudahlah lain waktu pasti bisa, pikirku dalam hati. Inilah satu sisi dari kehidupanku, dunia radio. Yah, sebelum akhirnya aku memutuskan ingin menajdi seorang penulis dan ahli psikologi. Aku sempat berkeinginan untuk bekerja di dunia entertain, menjadi seorang reporter, presenter dan tentunya penyiar radio bahkan juga aku pernah terfikir untuk menjadi seorang fotografer. Tapi aku sadar, keinginan itu harusnya ku kubur dalam-dalam mengingat orang tuaku sama sekali tidak setuju aku menjadi mereka-mereka yang ku inginkan, hingga akhirnya aku sekarang hanya bisa mendengarkan suara penyiar kesayanganku, main ke studio radio, hanya mengidolakan dan berteman dengan mereka. Tanpa berani sedikitpun untuk berilmu pada mereka, karena ku tau itu hanya akan sia-sia.
Penulis, aku merasa sudah sangat akrab dengan kata ini. Yah, menulis adalah hobiku dari SMP, dari sejak aku mengenal novel yang sering ku pinjam dari perpustakaan daerah setiap hari jum’at sepulang sekolah. Aku tak sehebat kak sefry..memang, aku masih belajar. Aku masih mendalami siapa aku yang sebenarnya, dan apa yang akan aku lakukan di masa depan. Saat ini aku masih duduk di bangku kelas XII atau setara dengan kelas 3 SMA, langkahku semakin dekat menuju dunia yang sebenarnya. Setelah lulus dari pendidikanku di SMK ini aku ingin melanjutkan kuliah di salah satu universitas (untuk kesekian kalinya) ternama di surabaya tepatnya di fakultas psikologi.
Sekali lagi, aku masih dalam tahap mendalami siapa aku yang sebenarnya. Termasuk juga yang ini, menjadi seorang ahli psikologi. Entah sejak kapan dan apa yang menjadi alasanku untuk memiliki keinginan berkecimpung dalam bidang ini. Mungkin karena beberapa temanku berkali-kali mempercayai aku untuk mendengarkan keluh kesahnya atau bahkan bertukar pendapat, kadang pula meminta saran dan solusi atas masalah mereka. Dari situlah, aku merasa percaya diri dan ingin mengembangkan kemampuanku dalam membantu seseorang dalam memecahkan masalahnya yang selama ini memang mereka bilang, aku cukup membantu mereka dan mereka juga merasa nyaman setelah bercerita padaku.
Jujur saja, aku malah sama sekali tak faham dengan pelajaran jurusanku, tentunya bergelut dengan komputer dan jaringan. memang sedari SMP aku pun tidak tertarik dan penasaran dengan mekanik kerja benda yang menjadi candu bagi manusia jaman sekarang. Niat saja, aku tak punya apalagi semangat belajar ? yah itu pikiran tersempitku pertama kalinya aku masuk sekolah setelah MOS. Tapi, aku bukanlah tipe orang yang gampang menyerah dengan keadaan. Aku mencoba menyembuhkan penyakit mentalku sendiri dengan sugesti terkuat bahwa semua akan baik-baik saja, aku tetap bisa naik kelas dan lulus.tekanku dalam hati.
2 tahun lebih aku jalani sebagai siswi jurusan teknik komputer jaringan, aku baik-baik saja sekarang. Ya, sekarang. Namun pada prosesnya untuk sampai ke titik ini kelas XII semester ganjil, bukan proses yang mulus semulus jalan tol. Bahkan aku jadi lebih sering merasa stres dengan tugas-tugas yang ada juga aku tak faham sedikitpun. Belum lagi ada yang selalu menghantui di fikiranku, mengenai berlangsungnya ujian-ujian praktek jurusanku yang setiap tahunnya mampu membuat siswinya menangis.
Aku tak jarang mengikuti test kepribadian, dan hasilnya menunjukkan kepribadianku cenderung seorang melankolis, yang pada dasarnya melankolis adalah seseorang yang menyukai segala sesuatu di kerjakan secara teratur. Dan pekerjaan itu malah merujuk ke bidang management khususnya administrasi. Mungkin itu sebabnya seseorang pernah berkata demikian padaku “dek, kamu kerja di bank saja atau jadi admin gitu”. Kalimat ini sempat membuatku berpikir sejenak, keduanya sinkron memang. Aku yang melankolis dan pekerjaan seorang melankolis yang identik teratur.
Apapun yang terjadi kemarin, dan hari ini memang bisa berpengaruh di masa depan, tapi aku yakin takdir tuhan memang masih menggenggam daripada yang lain. Aku masih terus menulis puisi dan novel seketika ada inspirasi melintas di fikiranku, juga masih setia mendengarkan cerita temanku, dan juga mengerjakan segala sesuatu dengan teratur. Aku hanya bisa berdo’a dan berusaha, juga menyelesaikan tahap dari mendalami siapa aku yang sebenarnya selanjutnya ku serahkan sepenuhnya pada takdir tuhan. Karena, apapun yang kita terima di masa depan adalah buah dari yang kita lakukan saat ini.
"lakukan apapun yang bisa kau lakukan saat ini, selama itu baik dan bisa membawa perubahan buatmu"
-Rahma PM

Komentar
Posting Komentar