Memelukmu dari Jauh

Foto : tumblr

Selamat malam hati yang disana. Hati yang tak bisa menerima hati ini. Namun, seringkali memberi bahagia. Walau dengan perlakuan sangat sederhana, Sekedar melalui pesan atau suara. Karena itu,  Tak salah bila banyak yang mengatakan "Bahagia itu sederhana". Aku tak tau siapa yang membuat teori itu, tapi mengenalmu, membuat aku merasa bahwa teori itu terkadang ada benarnya.
Ya, ternyata sesederhana itu. Sesederhana kamu membalas pesanku. Ya, aku yang selalu memulai. Entah tak punya malu atau terlalu berharap. Ah, aku tak begitu paham akan dua hal itu. Yang jelas, aku temui bahagia setelahnya.

Maaf, jika aku terlalu egois. Terlalu cemburu dan tak bisa menerima, ketika kamu sedang dengan yang lain. Walau kita sebatas teman. Percaya atau tidak, semua ini di luar kendaliku. Termasuk rindu, yang seringkali menyayat kalbu. Aku sering memarahi hatiku, ia terlalu lancang merindukanmu. Bahkan ia juga begitu tak tau diri. Terus saja mendambakanmu.

Aku tak pernah benar-benar menginginkan ini terjadi. Aku suka menjadi bahagia. Tapi bukan dengan cara ini. Tapi jika Tuhan memberikannya, aku berusaha  dengan ikhlas menerima. Tetap berdiri walau sempat terjatuh. Tetap berjalan walau awalnya tertatih.Tetap tersenyum walau hati menangis. Berpura-pura baik-baik saja saat perih terasa.

Yang aku bisa lakukan saat ini, hanyalah memelukmu dari jauh. Melalui pembicaraan dengan Tuhan di tengah malam. Dengan menengadahkan kedua tanganku sejajar di depan dada, juga mengucap lirih namamu dalam tempurung harap. Kuyakini, itu cara paling sederhana untuk memelukmu. Merasa kamu ada di sampingku. Merasa bahumu menjadi tempat kepalaku bersandar. Merasa menggenggam tanganmu dengan erat. Merasa ada kehangatan mengalir ketika menatapmu. Sekalipun itu belum pernah terjadi hingga saat ini. Untuk hati yang ada disana, kuharap kamu selalu bahagia. Walaupun bukan aku yang menjadi alasannya, aku ikut bahagia.


Komentar

Postingan Populer