Memelukmu dari Jauh
Selamat malam hati yang
disana. Hati yang tak bisa menerima hati ini. Namun, seringkali
memberi bahagia. Walau dengan perlakuan sangat sederhana, Sekedar
melalui pesan atau suara. Karena itu, Tak salah bila banyak yang mengatakan "Bahagia itu
sederhana". Aku tak tau siapa yang membuat teori itu, tapi
mengenalmu, membuat aku merasa bahwa teori itu terkadang ada benarnya.
Ya, ternyata sesederhana
itu. Sesederhana kamu membalas pesanku. Ya, aku yang selalu
memulai. Entah tak punya malu atau terlalu berharap. Ah, aku tak
begitu paham akan dua hal itu. Yang jelas, aku temui bahagia setelahnya.
Maaf, jika aku
terlalu egois. Terlalu cemburu dan tak bisa menerima, ketika kamu
sedang dengan yang lain. Walau kita sebatas teman. Percaya atau tidak, semua ini di luar kendaliku.
Termasuk rindu, yang seringkali menyayat kalbu. Aku sering memarahi hatiku, ia
terlalu lancang merindukanmu. Bahkan ia juga begitu tak tau diri. Terus
saja mendambakanmu.
Aku tak pernah
benar-benar menginginkan ini terjadi. Aku suka menjadi bahagia. Tapi bukan
dengan cara ini. Tapi jika Tuhan memberikannya, aku berusaha dengan
ikhlas menerima. Tetap berdiri walau sempat terjatuh. Tetap berjalan walau
awalnya tertatih.Tetap tersenyum walau hati menangis. Berpura-pura baik-baik
saja saat perih terasa.
Yang aku bisa lakukan
saat ini, hanyalah memelukmu dari jauh. Melalui pembicaraan dengan Tuhan di
tengah malam. Dengan menengadahkan kedua tanganku sejajar di depan dada, juga
mengucap lirih namamu dalam tempurung harap. Kuyakini, itu cara paling
sederhana untuk memelukmu. Merasa kamu ada di sampingku. Merasa bahumu menjadi
tempat kepalaku bersandar. Merasa menggenggam tanganmu dengan erat. Merasa ada
kehangatan mengalir ketika menatapmu. Sekalipun itu belum pernah terjadi hingga
saat ini. Untuk hati yang ada disana, kuharap kamu selalu bahagia. Walaupun
bukan aku yang menjadi alasannya, aku ikut bahagia.

Komentar
Posting Komentar