Surabaya, Bukan cuma Soal Jancok!

JANTUNG KOTA : Salah satu saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo saat melawan penjajah. loc : Hotel Majapahit. Photo by : Rahma PM.



Piye, Waras ta cuk?


Mendengar kata Surabaya, mungkin juga nggak bakal asing buat kita dengan kata jancok. Ya, dimana kata itu lahir di kota pahlawan, Kota yang kutinggali dari umur 41 hari hingga hari ini. yaps, aku terlahir di tanah angling dharma, lebih tepatnya kabupaten bojonegoro, 40 hari kemudian aku diboyong ke kota yang memiliki lambang sura dan buaya ini. Hampir 19 tahun tinggal di kota ini, bukan waktu yang singkat reeek. Banyak hal yang kulalui disini, sekolah, mblakrak, belajar, motret, jumpalitan, dan banyak lainnya. Jadi, bisa dibilang aku juga orang surabaya, nggak ada orang yang nyangka kalo aku lahir dari luar kota ini. And i love every corner of it, ala-ala slogan Tourism Information Centre Surabaya. Tapi, serius, semua hal yang ada di kota ini emang bikin jatuh cinta! You can prove it by yourself.


Nyari makanan disini nggak susah, dimana-mana tersebar tempat makan, dari yang paling murah sampe mahal. Mau nongkrong juga gampang, dari tongkrongan paling murah sampe mahal, apalagi makin kesini makin berkembang yang namanya kafe, dimana orang main cuma biar kelihatan keren dan eksis. Wuahahaha. Mau main juga bisa banget, banyak taman-taman yang bisa jadi tempat buat cari kecengan atau mau kenalan sama komunitas-komunitas seru di Surabaya. Selain itu, Kota kebanggaanku ini adalah gudangnya sejarah reeek, jadi yang mau blusukan, jalan-jalan, sekaligus belajar sejarah kota ini nggak bakal mengecewakan, bahkan pemerintahnya melalui Tourism Information Centre Surabaya menawarkan tur di beberapa tempat bersejarah di Surabaya. Kurang baik apa coba?


And the most popular place in here is......DOLLY. nggak munafik, kalian pun pasti tau itu makanan apa, enak atau nggak, mahal atau nggak, ya kan? Tapi, syukurlah emaknya arek-arek Suroboyo nggak segan-segan nyapu tempat itu, nah perempuan ini juga yang bikin aku makin marem dan superbangga disini. Lima tahun terakhir kota ini makin baik dalam beberapa aspek yang nggak perlu dijelasin juga sih, penghargaan pun ikut membuktikan, dan mbah google lebih bisa membantumu untuk tau.


Dan yang paling fenomenal di sini adalah PERSEBAYA dan BONEK. Keduanya itu udah kayak nasi bungkus sama karet, kelet. Supporter paling banyak dan solid yang kutahu di Indonesia, ya Cuma segelintir bagian dari BONEK yang barangkali pernah bertingkah kurang enak jadi bikin image mereka kelihatan negatif terus di mata sebagian orang, padahal sih nggak semuanya kayak gitu.


Kalo balik bicarain makanan lagi, hmm lapeeer...Surabaya juga nggak kalah dari kota-kota lain, dari makanan berat sampe jajanan ringan tapi supermantab. Selain enak, disini banyak sekali makanan yang diberi nama-nama aneh atau unik, misalnya mie setan, mie akhirat, nasi goreng jancok, bebek teroris, ceker mbledos, bakso granat, rawon kalkulator dan masih banyak lagi. Tapi yang paling aneh, ada banyak warung yang bertulis “cabang purnama”, tapi nggak pernah ketahuan pusatnya ada dimana. Orang Surabaya pasti tau, kalo nggak tau sih KUPER.


Tapi dari semuanya, yang paling bikin berkesan yaaa.....warisan budayanya, lebih tepatnya wisata bersejarahnya. Ya, karena aku suka jalan-jalan tapi bukan ke tempat yang biasa, kalopun disuruh milih mall atau tempat bersejarah, ya mending ke tempat bersejarah yang belum pernah aku kunjungi, yang nggak Cuma bisa jadi hiburan tapi juga belajar sejarah pastinya, biar ada cerita buat anak-cucu juga. Dan entah kenapa asik aja ketika teman-teman kita nggak tau, tapi kita udah tau rahasia besar di Surabaya. Dari mereka-mereka yang lebih bisa dibilang nocturnal justru kota ini kelihatan kreatif lho warga-warganya, mural-mural dan grafitti yang tersebar di beberapa sudut kota, selain emang menarik tapi juga mengandung pesan-pesan dan kritik sosial yang dikemas dengan cara beda. Eh, tapi beda loh ya sama orang norak yang coret-coret tembok doang.


Terakhir, Surabaya ini juga semacam kota yang nggak pernah tidur, selain karena makin hari macetnya makin nggak aturan, tapi waktu malam pun juga nggak pernah sepi. Lebih dari itu semua, yang paling aku harapkan saat ini Cuma Bu Risma. Bukan apa-apa sih, ini juga nggak jadi keinginanku aja pastinya, tapi semua arek-arek Suroboyo sangat menginginkan beliau kembali jadi Emaknya mereka.


Terakhir dari yang terakhir, kalo lagi di Surabaya telinga kita pasti bakal dengar satu kosakata lokal yang nonsense, tapi akrab banget di mulut dan telinganya arek-arek Suroboyo, yaitu Jancok. Kalo ada yang belum punya pikiran soal kata ini, bolehlah dicari tau sejarahnya, beberapa orang sih nganggepnya jadi kata yang saru (kurang pantas, Red) buat diucapin, tapi menurutku sendiri, yang nonsense itu tadi sih, dalam perasaan, kondisi, cuaca apapun pasti diucapin.














Iki seh Suroboyo nang motoku, piye nang matamu?

Komentar

Postingan Populer