Di Balik Balada Tiket Habis dan Lampu Mati


Ciee...tiket pertama nonton

How was your day, buddy? Is that okay? I hope so.                    

Menyenangkan tentu, ketika kau berhasil melakukan sesuatu yang selama ini kau inginkan, meski tak harus selancar ekspektasimu. Mungkin itu yang terjadi padaku hari ini. Kalian pasti tau 22 Desember yang lalu Raditya Dika baru saja merilis film terbarunya berjudul Hangout. Dari trailer yang aku tonton di CNN showbiz, ah nampaknya film ini amat menarik, karena adegan yang ditayangkan di trailer tersebut berbau komedi. Meski awalnya memiliki kesan horor atau thriller dan penuh teka-teki, tapi tetap saja seperti biasa Radit mengemasnya dengan komedi. Pun para pemainnya juga tak asing, beberapa menjadi publik figur yang cukup kusukai karyanya, misalnya Soleh Solihun dan Bayu Skak. Selain itu ada juga aktor yang cukup lama di bidang perfilman Indonesia, Surya Saputra yang memperlihatkan karakter barunya, yang amat berbeda dari karakternya di film-filmnya sebelum ini.

Berangkat dari ketertarikan itu, temanku yang memiliki niatan menonton film yang sama kuajak pergi nonton bareng. Ini bakal jadi film pertama yang kutonton di bioskop. Itulah keoptimisanku. Aku membuat janji menonton yang siang saja, agar tak kemalaman saat pulang jika menonton yang malam atau sore menjelang malam. Oke. Hari itu pun, SENIN tiba. Guess how excited i am? Biasa aja sih. Paginya aku BBM temanku, Ardila, memastikan kalau nanti siang jadi ya. Kesalahanku, aku terlalu terlambat mengecek jadwal tayang filmnya. Pasalnya pukul 11 pagi menjelang siang kurang lebih aku mencoba untuk mengeceknya, tiba-tiba aku kehilangan koneksi internet. Sinyal ngadat. Ah, sial!, umpatku dalam hati. Dengan tenangnya, karena waktu itu memang sudah mengantuk setelah mencicil mengetik tugas UAS, aku putuskan untuk tidur siang dulu biar entar di bioskop tak mengantuk. Ardila pun tak kunjung menjawab BBMku lagi, hingga aku keburu tebal (lenyap, red).

Pukul 14.00 alarmku berbunyi. Cek ponsel. Ardila mengirim gambar berisi jadwal tayang film di Delta 21, tempat rencana nonton karena murah dan paling dekat dengan rumah kami hahaha. Awalnya mau ikutan meet n greet di CGV Blitz Marvell City, dikarenakan tanggal tua, akhirnya mikir-mikir lagi dan pindah haluan aja deh ke Delta 21. Toh, dari para castnya sih engga terlalu ada yang pengen ditemuin. Kalau Ardila pengen ketemu Prilly Latuconsina katanya, tapi pada akhirnya kami sampai pada kesepakatan, engga usah deh. Waktu terdekat, 14.40, sayangnya amat sangat nggak mungkin bisa kebagian tiketnya. Mandi saja belum, haha. Akhirnya kami memutuskan untuk menonton yang pukul 16.50. Namun, entah kenapa aku memiliki firasat bahwa kami akan kehabisan tiket, mengingat film ini masih sangat baru, baru empat hari sekarang rilisnya dan hari ini masih libur cuti bersama dari peringatan Hari Natal, serta liburnya anak sekolah. Aku pikir aku punya cukup waktu untuk bersiap nanti, sembari menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum rampung. Ternyata, karena aku sama sekali sudah tak melihat waktu, aku terlambat bersiap-siap. Hingga pukul empat tepat, aku belum keluar rumah. Padahal harusnya sih sudah, karena aku harus menjemput Ardila dulu di kosnya. Kurang lebih pukul 16.20 kami melenggang menuju Delta. Di perjalanan aku bilang pada Ardila “Aku gak yakin kita masih kebagian tiketnya”. Sungguh, aku terpikirkan itu sepanjang jalan. Sebab, firasatku seringkali kuat dan tepat.

Tidak butuh waktu lama mungkin sepuluh menit, kami sudah sampai di antrean parkir. Tumben tidak terlalu panjang, mungkin karena masih sore. Kami bergegas dengan langkah buru-buru menuju lantai emm, empat mungkin. Tangga dan pintu keluar dipadati pengunjung yang baru saja keluar teater dan kami pun disambut antrean panjang di depan loket. Dari jauh aku mencoba melihat pada judul Hangout. Oke, Guess what? Tiketnya habis. Hiks. Firasatku untuk kesekian kalinya tepat. Tersisa pukul 21.15, yang amat sangat tidak mungkin kami membelinya haha. Masih ada tawaran film lain sebenarnya, misalnya Headshot, The Professional, Cinta Laki-laki Biasa, dan Bulan Terbelah di Langit Amerika 2.

Aku masuk ke dalam antrean, dan Ardila berjalan ke depan untuk mengecek. Lalu, ia berjalan ke arahku dan menegaskan sekali lagi tiket Hangout sudah ludes. Kami akhirnya berunding, aku menawarkan untuk menonton BTDLA 2 yang akan tayang di waktu yang sama, 16.50, karena Ardila mengatakan tak tertarik pada film action. Sedangkan, film Cinta Laki-laki Biasa tayang pukul 18.55. Yang aku tahu pun, 99 Cahaya di Langit Eropa itu film yang bagus, jadi aku menduga harusnya BTDLA 2 ini bakalan sama bagusnya. Kenapa aku terpikir 99 Cahaya di Langit Eropa, jujur saja aku belum menonton secara lengkap BTDLA 1, huahahaha. Kemarin saat peringatan hari Maulud Nabi, SCTV menayangkannya saat siang, tapi aku hanya kebagian ending yang cuma sepuluh menit, karena aku fokus menonton My Name is Khan di Trans TV, haha. Ardila sama sekali tidak tahu soal film ini, dan akhirnya Aku menjelaskan sedikit bahwa ini adalah sequel dari 99 Cahaya di Langit Eropa, Guess what, Ardila tetap bilang engga tahu hehehe. Aku melihat sedikit keberatan di matanya, hingga aku menanyakan berkali-kali apa dia ikhlas menonton ini, karena aku engga mau dia menyesal menonton film yang tidak diinginkan. Jangan-jangan aku terlalu egois mengajaknya menonton ini, tapi dia meyakinkan bahwa oke, kita nonton ini nggak papa. Dari pada pulang dan engga dapat apa-apa.

BTDLA sebagai sequel 99 Cahaya di Langit Eropa memang membuatku penasaran, pasalnya menurutku 99 Cahaya di Langit Eropa itu sangat mengesankan. Jadi, aku berekspektasi BTDLA bakal sama mengesankannya. Pukul 16.48 tiket sudah di tangan. Kami pun bergegas mencari teater 3 yang bersebelahan dengan teater 4, dalam perjalanan aku bertemu temanku yang bernama Citra. Ternyata, Citra pun bernasib sama denganku. Tadinya mau menonton Hangout tapi kehabisan, akhirnya dia memilih menonton  The Professional di teater 4. Pukul 16.50, lampu belum redup dan layar pun masih memutar iklan-iklan. Pukul 16.56, “ini lho jam berapa, molor tayangnya”, bisik Ardila padaku. Kami mendapat kursi di atas, baris ketiga dari atas. Konon kata teman-teman penonton-film-di-bioskop-yang-senior baris-baris bangku di atas biasanya menjadi tempat melakukan hal-hal yang asdfghklmnbvcx. Kebetulan sebelahku adalah pasangan muda-mudi, aku di kolom ketiga. Mereka yang lebih dekat dengan dinding. Namanya masih awam sekali sama bioskop, sumpah iya. Ini pertama kalinya aku ke bioskop. aku sih ya berpikir positif saja ya.

Ngomong-ngomong pertama kalinya nonton, jujur saja, hari ini memang menjadi kali pertama aku nonton di bioskop. Selama ini nonton di mana? Ya di laptop atau di tv. Sebenarnya, aku berani saja kalau harus sendiri nontonnya, cuma takut bakalan bingung waktu masuk teaternya karena kan engga pernah masuk ke bioskop. Pesan tiket saja tak pernah. Intinya engga mau canggung sendiri macam orang hilang pegangan hidup, wkwk. Takut mengambil tempat duduk orang lain, wkwk. Jadi, nunggu punya pengalaman masuk bioskop bareng orang lain. Mungkin kalian cukup bertanya-tanya kenapa engga pernah nonton? Sebenernya aku sudah sering berencana pergi ke bioskop, dan juga hingga mengantri. Sejak masih duduk di bangku SMK, sewaktu Habibie Ainun baru rilis. Sudah rencana mau berangkat nobar, eh ada saja halangannya. Lagi, sewaktu tahun lalu film dari Mas Hamas mau tayang, Tausiyah Cinta, ada salah satu teman karib (perempuan) yang mengajak menonton kalau nanti sudah tayang. Sayangnya, di-php-in doang tau-tau doi sudah menonton sama teman yang lain, dan aku...ditinggal, makasih lho ya.

Tahun berikutnya di tahun ini, 2016, film yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia pun rilis, film yang dibintangi Abimana, Tora Sudiro, dan Vino G Bastian. ya, Warkop DKI (reborn). Untuk film yang ini aku sudah berencana nonton bersama AMIGOS (teman-teman di saat SD), jauh-jauh hari sebelum dirilis. Akhirnya, sewaktu sudah rilis kami memang tidak berencana untuk menonton saat tayang perdana. Terlebih dahulu kami menyocokkan jadwal masing-masing karena kesibukan kuliah dan kerja yang membuat kami kesusahan untuk bisa ketemu. Terpilihlah mungkin lima hari setelah rilis, kami memilih menonton yang sore. Ada lima orang saja yang mengonfirmasi untuk ikut nobar (nonton bareng). Lucunya, masing-masing dari kami pada bisa datang ke bioskop di waktu yang amat mepet dengan jadwal tayangnya. Alhasil, dua dari kami yang berangkat terlebih dulu untuk memesankan tiket, hanya berhasil mendapatkan dua tiket yang tersisa dan itu untuk mereka. Huff, menyebalkan. Aku bersama dua temanku yang datang menyusul, hanya bisa plonga-plongo (bengong kayak orang bego) di depan antrian loket. Akhirnya, aku mengajak mereka untuk ke toko buku Gunung Agung. Menghibur diri. Terima kasih dua temanku yang budiman, meninggalkan kami bertiga seperti orang hilang pegangan.

Rencana berikutnya datang saat berniat menonton Ada Apa Dengan Cinta 2, kau tentu tau sendiri bagaimana animo masyarakat Indonesia terhadap film ini. Film fenomenal yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo sebagai Cinta dan Nicholas Saputra sebagai Rangga. Kalau film ini aku berencana menonton dengan dua teman kuliahku. Padahal kami menonton (nampaknya kalau aku tidak salah ingat) lebih dari seminggu hari rilisnya. Guess what, animo masyarakat masih cukup tinggi. Lagi-lagi, kesalahan kami bertiga, datang terlalu mepet dan merasa santai, halah, rilisnya kan udah agak lama. Jadi, ceritanya aku datang menyusul (lagi) karena aku harus ke Loop Station yang ada di Darmo untuk menangani pameran fotografi yang akan dihelat UKMku. Lalu, aku meminta dua temanku untuk berangkat lebih dulu membeli tiket untuk kami bertiga dan lagi, aku dengan mereka memilih jadwal tayang yang sore. Namun, apa mau dikata di luar dugaan Ani telat pulang ke kos entah karena urusan apa. Akhirnya, dua temanku, Ani dan Ardila terlambat berangkat. Justru aku yang meminta izin menyusul, datang terlebih dahulu, di mana saat itu antrian sudah mengular. Aku tidak berani mengantri langsung sebab aku canggung dan takut salah dalam memesan tiket. Lalu, aku perhatikan sebuah LED TV yang ada di belakang mbak-mbak penjual tiket di loket. Tulisan yang terpampang di sana menunjukkan jadwal tayang yang kami bertiga inginkan untuk AADC 2 sudah gelap dan pikiranku langsung menyimpulkan artinya tiket sudah habis. Sejak itu, aku sudah minder dan tak yakin kali ini bakal berhasil nonton. Aku memilih minggir mencari tempat duduk sambil terus menghubungi Ardila dan mengabarkan hipotesisku ke dia. Sambil membaca buku dari Etgar Keret yang berjudul The Seven Good Years, sedikit-sedikit aku melihat ke ponselku. Tak lama kemudian, Ani dan Ardila menghampiriku. Ardila berjalan ke dekat loket untuk melihat tulisan yang ada di LED TV demi memastikan hipotesisku benar. Baik, untuk kesekian kalinya aku gagal nonton.

Jauh sebelum AADC 2 tayang, aku pernah berencana nonton Tekken : Kazuya’s Revenge. Sayangnya, aku melihat ke sekitarku tak ada yang nampak tertarik pada film ini. Tidak ada tanda-tanda yang ingin menonton ini. Tuhan, aku harus ngajak siapa buat nonton Jin Kazama?. Akhirnya, aku hanya berhasil menonton trailernya saja di Youtube. Sebenarnya, aku sering menawarkan untuk nonton pada segenap teman-temanku yang ada di BBM melalui Personal Message(Message ya, bukan chat). Sayangnya, sayangnya tidak ada yang menyahut untuk berkata “ayo!”. Kalau pun ada, seringnya sama-sama mau menonton, tapi tidak menemukan waktu yang pas. Akhirnya, gagal. 

O ya, ada yang terlewat dari ceritaku tadi, sebenarnya ada alasan yang membuatku enggan nonton. Pertama, bagiku menonton saat di bioskop dengan di laptop itu sama. Isinya sama, gambarnya sama, bedanya nonton sendiri dan kalau menonton di bioskop, bisa lebih tau jalan ceritanya lebih dahulu. Jadi bisa cerita banyak hal sama teman di sekolah soal film yang baru saja ditonton. Tanpa harus menunggu hasil unduhan masuk ke laptop. Jadi, aku amat sangat jarang punya hasrat harus nonton film di bioskop. 

Kedua, aku ini berasal dari keluarga kurang mampu. Uang jajan tak terlalu tebal, walhasil harus benar-benar pintar mengatur uang dan pintar-pintar memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Kebutuhan pun mesti dipilah mana yang lebih prioritas. Kalo ekonomi mah panjang ya penjelasannya. Mana lagi, jarak rumah ke sekolah itu jauh, jadi ke sekolah pun berat di ongkos (ongkos pergi-pulang). 

Ketiga, tak ada teman menonton atau kadang bingung cari teman nonton. Jujur saja, aku tipe orang yang amat segan (sungkan) untuk mengajak terlebih dahulu (untuk hal-hal yang mengeluarkan uang). Sebab, kondisi orang beda-beda. Aku menyadari itu. Jadi, aku menunggu ada ajakan, tapi sewaktu ada ajakan...aku tak ada waktu atau tak punya cukup uang. Hiks.

Keempat, sebab menonton bukan hal yang diwajibkan agama, negara, atau sekolah apalagi perintah orang tua. Ini mungkin agak kolot, tapi tunggu itu benar tidak? Benar, kan? Bukan apa-apa, maksudku tak ada hal apa pun yang mengikat dan membuatku mengharuskan atau memaksakan diriku untuk pergi nonton. 

Kelima, aku takut boros, karena rasanya tak mungkin aku hanya akan menonton. Paling tidak aku akan membeli camilan dan minuman setelah keluar bioskop. 

Keenam, karena kebiasaan-kebiasaan yang santai saja sama film-film yang ada di bioskop-bioskop, jadi tetap tak ada hasrat harus segera nonton. Santai, seperti dasar pembawaanku sendiri. selain itu, karena memang sudah disibukkan dengan kegiatan-kegiatan baik di sekolah maupun di luar sekolah, sebab aku mengikuti suatu komunitas dan masih ikut hingga hari ini. Akhirnya, nonton itu bukan jadi agenda sunnah, apalagi wajib. Bergantung filmnya dan mood, kalau filmnya menarik, mood kepingin, uang ada, waktu ada, teman ada, ya berangkat. Sama seperti hari kemarin.

Nah, balik lagi ke pengalaman nonton pertama kalinya yang bisa dibilang hampir gagal nonton. Karena apa? Ya karena awalnya pengen nonton Hangout, tapi ya sudah sih ya. Mau diapain lagi, mungkin memang belum rezekinya. Paling engga rasa penasaran sama BTDLA 2 sudah terbayar, walaupun yang Hangout belum terbayar. Huhu. Menyedihkan. Menyedihkannya lagi, di momen pertama kali nonton ini ternyata di luar sedang hujan deras. Guess what, malnya lampu mati dan akibatnya bioskop pun ikut mengalami lampu mati. Layar di depanku menggelap di tengah-tengah berlangsungnya film BTDLA 2, selama dua kali. Ya, dua kali. Scene di mana Stephen mengunjungi Jasmine di rumahnya saat di San Fransisco dan saat Hanum dan Julia Collins memeriksakan usia koin peninggalan Cheng Ho pada seorang kolektor. Mungkin bagi teman-teman yang sudah amat sering nonton di bioskop, ini akan agak lucu. Aku berekspektasi suasana di dalam bioskop saat film berlangsung akan kondusif, tetapi kenyataan berbalik. Pasangan muda-mudi di sebelahku yang tadi kuceritakan, duilaaah, yang laki-laki engga bisa diam tingkahnya, nah yang perempuan engga bisa diam mulutnya. Saya berdehem berkali-kali supaya mereka sadar, kalau kelakukan mereka mengganggu tetangga sebelah. Eh tapi engga nyadar juga sampe filmnya berakhir.

Ternyata begitu ya suasana nonton, ternyata begitu ya rasanya nonton film di bioskop. Betul memang, terkadang realita menyimpang dari ekspektasi kita. Awalnya ingin menonton film A, eh karena tiket habis akhirnya engga jadi nonton atau malah nonton film B. Baik, setelah panjang lebar tadi, aku mau berterima kasih pada temanku Ardila yang akhirnya membantuku dalam menyukseskan acara nonton perdanaku. Jadi, untuk berikutnya aku bisa berangkat sendiri dan engga perlu heran kalau kedepannya mungkin saja aku akan memosting ceritaku soal nonton di bioskop lebih sering lagi. bwahaha. Anw, sudah lelah membacanya? Tenang, ini memang sudah selesai. Kalau kalian punya pengalaman soal nonton juga, boleh banget lah dibagi di kolom komentar atau berbagi cerita di email. Ehehe. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Yay!

P.S. : sesungguhnya tulisan ini sudah ditulis sejak senin dan bakal dipost di hari senin tadinya, tapi karena ada kendala-kendala, akhirnya baru terposting sekarang. FYI, aku tidak punya cukup stok gengsi untuk mengakui ini, bwahaha.

Komentar

Postingan Populer