Hujan Bulan Juni 2021
![]() |
| Sumber: wallpaperbetter.com |
Olaaaaa!
Aku
kembali meski tidak ada yang rindu, uhuk! Sudah sebulan lebih tidak jumpa di
sini. Aku tidak sedang mau membawa topik menarik, tapi aku akan sangat senang
kalau kalian membacanya sampai selesai. Sebelumnya, untuk kalian yang
menyempatkan mampir dan membaca tulisanku, semoga dalam keadaan sehat
lahir dan batin ya. Sekalipun jika tidak, aku harap kalian akan segera membaik.
Adakah
dari kalian yang mengira tulisan ini akan berisi puisi milik Sapardi? Pasti
pernah minimal sekali kalian mendengar atau membaca judul itu, “Hujan Bulan Juni”,
puisi yang kemudian dikembangkan menjadi novel oleh penyairnya. Sengaja atau
tidak, kalian pasti pernah membaca puisi-puisi Sapardi Djoko Damono karena
puisi beliau seringkali masuk ke dalam buku-buku Bahasa Indonesia. Contohnya yang
berjudul “Aku Ingin”, tapi tulisan ini bukan untuk membahas Sapardi ataupun
puisi-puisinya.
Hujan
bulan Juni, sebetulnya anomali. Menurut ingatan dari semasa sekolah dulu, Juni
seharusnya sudah memasuki musim kemarau, tapi biasanya yang terjadi adalah
bulan ini menjadi masa pancaroba atau peralihan musim. Jadi, mungkin belakangan
kalian akan merasakan di tempat tinggal kalian saat siang sangat panas dan
malam terasa dingin. Itu wajar. Pun biasanya musim pancaroba ini juga
berpengaruh ke kondisi kesehatan kita, akibatnya tidak sedikit juga yang
tumbang. Merasakan demam, meriang, gejala flu, dan gejala-gejala sakit lainnya.
Hujan
bulan Juni 2021, menandakan kesedihan, kehilangan, kepergian, perubahan, dan
hal-hal yang di luar bayangan. Hujan datang bersama kabar dan pergi
meninggalkan genang, di tanah dan di pelupuk mata. Meninggalkan haru di sudut
jendela dan di lubuk dada. Meninggalkan keheningan dan kesepian panjang. Banyak
kesedihan yang menimpa kita karena keadaan yang belum nampak membaik dan justru
sebaliknya. Banyak yang dipaksa ikhlas melepas kepergian orang-orang tercinta. Banyak
yang dipaksa kuat oleh keadaan melihat yang tercinta melemah kesehatannya. Sementara,
kemarahan dan kekecewaan turut hadir di tengah-tengah, Semesta membuka kartu
para penjahat di atas sana.
Di
tengah kondisi kesehatan yang menurun, kecemasan dan ketakutan justru
meningkat. Hanya sedikit yang sadar, sisanya lebih banyak kalah oleh keadaan. Tidak
ada satu pun media yang mampu diandalkan untuk turut memberi hawa positif dan
perasaan bahagia, itu memang bukan tugas mereka. Maka dari itu, dengan tulisan
ini, aku berharap apa pun kondisi yang kalian hadapi sekarang, kita sama-sama semogakan agar segera
membaik. Meski ke depan masih ada kemungkinan kondisi akan memburuk, tapi juga
ada kemungkinan kondisi akan membaik bukan? Nanti, akan ada hari kita bisa
berjabat tangan lagi tanpa cemas, memeluk tubuh lain dengan erat tanpa kekhawatiran,
bercengkrama hingga larut malam, dan menonton konser dengan keramaian yang justru
menambah semangat.
![]() |
| Sumber: HDQwalls |
Hari itu akan tiba, hari di mana musim dingin berhenti dan musim semi akan menyapa kita lagi. Kita akan leluasa menghirup udara, bersemangat mengadakan pertemuan, dan menjalani kehidupan seperti dulu tanpa cemas berlebihan. Dan sampai nanti waktu itu tiba, aku harap jangan pernah hilang harapan. Kuatlah untuk dirimu sendiri dan orang-orang yang kau kasihi. Jaga kesehatan ya, nanti baca-baca tulisanku lagi. Sebab, aku tidak ingin berhenti menulis. Dan aku ingin pamer ke kalian kalau nanti aku sudah menerbitkan buku baru.
Sampai
jumpa di tulisan berikutnya! ❤



Komentar
Posting Komentar