Kepada Kamu, yang Akan Pergi Jauh
secangkir kopi hangat berdiri di atas meja mengiringi hujan yang tak kunjung berhenti, menemani aku yang juga belum memejamkan mata ini. jam dinding menunjukkan panah pendeknya ke arah angka satu. deru angin berebut masuk melalui celah-celah kecil jendela kamarku meniup sehelai kain biru tua yang menggantung di atasnya.
hening masih terasa ketika beberapa menit yang lalu, kamu mengatakan kamu akan pergi. menuntut ilmu ke tempat yang cukup jauh di seberang. mengetahui hal itu tenggorokanku tercekat, seakan-akan di hampiri kemarau dalam sekejap dan menetap. aku berlalu dari obrolan kita dalam ruang chatting yang sudah berakhir sedari tadi. lalu ku hirup aroma kopi yang ku seduh ketika hujan menghampiri. setidaknya, ia cukup menenangkan. hati yang sedikit meledak-ledak ketika mengetahui kamu akan jauh.
setengah jam berlalu, aku meratapi hening membaca chat history. kemudian aku berpikir, kenapa aku tak serela ini? kamu siapa? aku siapa? aku siapa bagi kamu?
"kita hanya teman" tiga deret kata ini begitu menyentak ketika terlintas kembali di pikiran. roda-roda kekalahan kembali berputar.
tapi apa kamu menyadari ke-tak-serela-an ini ketika kamu akan jauh? mungkin tidak. kalaupun kamu tau, mungkin kamu akan memilih untuk pura-pura tak tau. pura-pura bodoh. pura-pura tak menyadari.
kamu pergi tak sendiri, kamu akan membawa hatiku. walaupun raganya disini, tapi aku ikhlas kalau ia menemanimu. tapi jangan heran jika ia tak akan meninggalkanmu, sedetikpun. aku akan tetap berada disini, menyediakan secangkir rindu yang dapat kau sesap setiap saat. setetes embun kasih yang dapat kau nikmati sejuknya setiap pagi.
bagaimanapun kamu setelah nanti, kamu tetaplah kamu. sosok yang aku ingin untuk melengkapi sisa hariku. walaupun itu hanya mauku. bukan maumu, sama sekali. kamu akan tetap ku sebut dalam do'aku, sekalipun kamu tak pernah melakukan hal yang sama. tapi itulah aku terhadap kamu. kamu boleh mengatakan aku bodoh, tapi kamu harus tau kamulah penyebabnya.
kamu, walaupun kamu tak dapat menjadi apa yang aku mau. tapi perlu kamu tau, aku selalu ingin menjadi apa yang kamu mau. aku akan bertahan hingga tuhan menginjinkan. aku selalu betah menjadi setia. aku ingin menunggumu hingga kamu kembali, sekalipun sekawanan merpati berkicau 'itu takkan mungkin terjadi'. walaupun ketika kamu kembali, hatimu masih bukan untukku.
kamu, tersenyumlah untukku. untuk aku, sebelum kamu pergi. agar hati ini tak terus menyimpan pertanyaan bodohnya.
'kapan kamu kembali dan menerima sosok yang jauh dari sempurna ini'
hening masih terasa ketika beberapa menit yang lalu, kamu mengatakan kamu akan pergi. menuntut ilmu ke tempat yang cukup jauh di seberang. mengetahui hal itu tenggorokanku tercekat, seakan-akan di hampiri kemarau dalam sekejap dan menetap. aku berlalu dari obrolan kita dalam ruang chatting yang sudah berakhir sedari tadi. lalu ku hirup aroma kopi yang ku seduh ketika hujan menghampiri. setidaknya, ia cukup menenangkan. hati yang sedikit meledak-ledak ketika mengetahui kamu akan jauh.
setengah jam berlalu, aku meratapi hening membaca chat history. kemudian aku berpikir, kenapa aku tak serela ini? kamu siapa? aku siapa? aku siapa bagi kamu?
"kita hanya teman" tiga deret kata ini begitu menyentak ketika terlintas kembali di pikiran. roda-roda kekalahan kembali berputar.
tapi apa kamu menyadari ke-tak-serela-an ini ketika kamu akan jauh? mungkin tidak. kalaupun kamu tau, mungkin kamu akan memilih untuk pura-pura tak tau. pura-pura bodoh. pura-pura tak menyadari.
kamu pergi tak sendiri, kamu akan membawa hatiku. walaupun raganya disini, tapi aku ikhlas kalau ia menemanimu. tapi jangan heran jika ia tak akan meninggalkanmu, sedetikpun. aku akan tetap berada disini, menyediakan secangkir rindu yang dapat kau sesap setiap saat. setetes embun kasih yang dapat kau nikmati sejuknya setiap pagi.
bagaimanapun kamu setelah nanti, kamu tetaplah kamu. sosok yang aku ingin untuk melengkapi sisa hariku. walaupun itu hanya mauku. bukan maumu, sama sekali. kamu akan tetap ku sebut dalam do'aku, sekalipun kamu tak pernah melakukan hal yang sama. tapi itulah aku terhadap kamu. kamu boleh mengatakan aku bodoh, tapi kamu harus tau kamulah penyebabnya.
"ingat hati ini buatan tuhan, ia takkan benar-benar lelah menunggu seseorang"
kamu, walaupun kamu tak dapat menjadi apa yang aku mau. tapi perlu kamu tau, aku selalu ingin menjadi apa yang kamu mau. aku akan bertahan hingga tuhan menginjinkan. aku selalu betah menjadi setia. aku ingin menunggumu hingga kamu kembali, sekalipun sekawanan merpati berkicau 'itu takkan mungkin terjadi'. walaupun ketika kamu kembali, hatimu masih bukan untukku.
kamu, tersenyumlah untukku. untuk aku, sebelum kamu pergi. agar hati ini tak terus menyimpan pertanyaan bodohnya.
'kapan kamu kembali dan menerima sosok yang jauh dari sempurna ini'

Komentar
Posting Komentar