Secuil Kisah 'Rumah Biru'
24 september kami dipersatukan
pagi itu, semangat kami dengan gagahnya berkobar
senang
bangga
tegang
sedikit gugup
bercampur jadi satu
bersama dengan sembilan belas orang lainnya
aku berdiri tegap
di tengah-tengah suasana sakral moment itu
di balut seragam putih-putih
menatap lurus ke depan dalam sikap sempurna siap
layaknya seorang pemimpin upacara
1 jam berlalu
tanpa sadar, air mata membasahi pipi
rasa bangga
mengikuti langkah kami menuju sebuah ruangan kecil
yang berada di sudut kantin sekolah
kami merasa asing dengan ruangan ini
baru pertama kali
kami benar-benar merasakan atmosfer
ruangan yang di penuhi orang-orang hebat
padahal ini bukanlah kali pertama
bagi kami menginjakkan kaki di ruang ini
namun hari ini adalah pijakan terkuat yang sesungguhnya
pagi itu, semangat kami dengan gagahnya berkobar
senang
bangga
tegang
sedikit gugup
bercampur jadi satu
bersama dengan sembilan belas orang lainnya
aku berdiri tegap
di tengah-tengah suasana sakral moment itu
di balut seragam putih-putih
menatap lurus ke depan dalam sikap sempurna siap
layaknya seorang pemimpin upacara
1 jam berlalu
tanpa sadar, air mata membasahi pipi
rasa bangga
mengikuti langkah kami menuju sebuah ruangan kecil
yang berada di sudut kantin sekolah
kami merasa asing dengan ruangan ini
baru pertama kali
kami benar-benar merasakan atmosfer
ruangan yang di penuhi orang-orang hebat
padahal ini bukanlah kali pertama
bagi kami menginjakkan kaki di ruang ini
namun hari ini adalah pijakan terkuat yang sesungguhnya
Sebuah ruang
yang tempatnya sedikit tersembunyi
ruang persegi yang di hiasi cat biru
yang lalu kami sebut “rumah biru”
rumah yang akhirnya jadi persinggahan kami
setelah pulang sekolah ataupun saat bel istirahat berbunyi
rumah yang menjadi tempat meluapkan amarah
ya, kadang-kadang
ruang untuk bertanggung jawab
ruang untuk menyelesaikan semua tugas yang kami punya
ruang yang menjadi rumah kedua bagi kami
ruang kecil yang bisa kami sulap
menjadi sebuah “bioskop”
ruang yang memang kecil, sangat sempit
apalagi untuk dua puluh orang di dalamnya
kadang ada pertengkaran kecil
di antara kami yang berebut tempat untuk menyandarkan punggung kami
pertengkaran kecil yang selalu ku ingat
pertengkaran kecil yang akan kami rindukan
dan kadang akan terjadi, saat kami bertemu
pertengkaran yang menunjukkan sosok kekanak-kanakan kami
pertengkaran yang juga sering di sebabkan
karena berebut makanan kecil
ruang persegi yang di hiasi cat biru
yang lalu kami sebut “rumah biru”
rumah yang akhirnya jadi persinggahan kami
setelah pulang sekolah ataupun saat bel istirahat berbunyi
rumah yang menjadi tempat meluapkan amarah
ya, kadang-kadang
ruang untuk bertanggung jawab
ruang untuk menyelesaikan semua tugas yang kami punya
ruang yang menjadi rumah kedua bagi kami
ruang kecil yang bisa kami sulap
menjadi sebuah “bioskop”
ruang yang memang kecil, sangat sempit
apalagi untuk dua puluh orang di dalamnya
kadang ada pertengkaran kecil
di antara kami yang berebut tempat untuk menyandarkan punggung kami
pertengkaran kecil yang selalu ku ingat
pertengkaran kecil yang akan kami rindukan
dan kadang akan terjadi, saat kami bertemu
pertengkaran yang menunjukkan sosok kekanak-kanakan kami
pertengkaran yang juga sering di sebabkan
karena berebut makanan kecil
ahh, semuanya indah bila ku ingat
nampaknya menjengkelkan memang melihat ada pertengkaran
namun setelah pertengkaran itu terjadi
yang ada malah membuat kami tertawa geli
ketika kami saling menyadari “kita sudah dewasa”
nampaknya menjengkelkan memang melihat ada pertengkaran
namun setelah pertengkaran itu terjadi
yang ada malah membuat kami tertawa geli
ketika kami saling menyadari “kita sudah dewasa”
| 17 Oktober 2013, di mana semuanya sudah berakhir |
17 oktober
semua perjalanan kami telah berakhir
kenangan kami di rumah biru harus terhenti
kini apapun yang kami lewati selama setahun
hanya ada dalam arsip
dan ingatan kami masing-masing
kami pasti merindukan rumah biru
rumah yang berisi
kebersamaan
Kekompakan
kekonyolan
kegokilan
kesedihan
amarah
kebingungan
tawa
Kejengkelan
Semuanya ada, semua kami rasakan
dan semua itu telah berakhir di rumah biru
Kini, kami jarang bertemu
tak seperti saat rumah biru
masih menjadi milik kami
setiap hari kami bertegur sapa
dan bersandar pada bahu saudara kami
tak ada lagi kejutan kecil
saat ada saudara kami yang berulang tahun
sekarang kami sedikit merasa asing dengan rumah biru
karena, jika kami masuk kesana
sama halnya kami hanya sebagai tamu
tak seperti saat rumah biru
masih menjadi milik kami
setiap hari kami bertegur sapa
dan bersandar pada bahu saudara kami
tak ada lagi kejutan kecil
saat ada saudara kami yang berulang tahun
sekarang kami sedikit merasa asing dengan rumah biru
karena, jika kami masuk kesana
sama halnya kami hanya sebagai tamu
Di dalam sana
semua berawal
Di dalam sana semua hal-hal berkesan terjadi
Di dalam sana renyah tawa pernah terdengar
Di dalam sana tangis kami pernah pecah
Satu tahun, tiga minggu, tiga hari telah kami lewati bersama
Dan di dalam sana pula semua berakhir
Di dalam sana semua hal-hal berkesan terjadi
Di dalam sana renyah tawa pernah terdengar
Di dalam sana tangis kami pernah pecah
Satu tahun, tiga minggu, tiga hari telah kami lewati bersama
Dan di dalam sana pula semua berakhir
| 24 September 2012, bersama Ibu Pinasti (Waka Kesiswaan) |
Terima kasih kepada sembilan belas orang-orang hebat yang pernah ku temui, sembilan belas orang-orang hebat yang telah memberi banyak warna dalam hidupku, sembilan belas orang-orang hebat yang pernah menjungkir-balikkan moodku.
Kepada kalian, sampai kapanpun kita keluarga. Dan sampai kapanpun aku sayang kalian, Cublik Family <3

Komentar
Posting Komentar