Purple Dream: Cerita Si Pemimpi Ulung
Olaaaaaa!
I'm back in this early March! Because, there's a long story i want to tell you here! xixixi
Seperti yang sudah kalian baca di judul dan foto sampul, aku mau cerita soal mimpi-mimpiku, setelah sebelumnya kubagi lewat event bernama Purple Dream. Purple Dream adalah acara yang dibuat oleh fanbase BTS di Twitter dengan akun @armydiaryroom dan @armydiaryfess. Acara ini merupakan acara lanjutan dari yang pertama, INDOMY BE A STAR. INDOMY adalah kependekan dari Indonesian ARMY. Masih dengan visi yang sama yaitu mereka ingin mengajak para Indomy untuk lebih mencintai diri sendiri, sejalan dengan pesan-pesan BTS untuk semua pendengar mereka. Dengan cara apa? Dengan bercerita tentang diri masing-masing peserta. Pada acara pertama, partisipan diminta bercerita tentang bakat yang dimiliki, nah kali ini diminta untuk bercerita tentang mimpi-mimpi mereka.
Dan, ini ceritaku..
Aku akan bercerita tentang mimpi-mimpiku, dari yang biasa sampai yang terasa mustahil. Mimpi-mimpi yang aku tulis di bawah adalah kelanjutan dari "bakat" yang aku asah, yang aku ceritakan di utas INDOMY BE A STAR dan mimpi lainnya. Di sini aku juga akan ceritakan mimpi-mimpi yang juga pernah "menghidupiku", bukan hanya mimpi yang hidup saat ini. Ini untuk pertama kalinya aku menceritakan semua mimpiku. Mulai dari saat TK, aku pernah berkeinginan menjadi atlet tenis atau badminton. Entahlah aku suka sekali dengan raket. Kalau hidupku berkecukupan, mungkin saat itu aku akan masuk klub Suryanaga, apalagi lokasinya dekat sekali dengan rumah. Namun, mimpi paling pertama itu harus "dibunuh" pelan-pelan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kemudian, waktu SD aku sangat passionate menjadi reporter acara travelling, bukan menjadi traveller saja. Aku suka sekali menonton acara travelling dan aku ingin menjadi host acara serupa, karena aku juga suka travelling, dan keliling dunia itu mimpi besarku. Sayangnya, mimpi itu "dibunuh" orang tuaku.
Setelah mimpi itu perlahan meredup, aku bermimpi menjadi seorang pramugari saat SMP. Aku tahu betul aku harus fasih Bahasa Inggris dulu dan saat itu memang aku termasuk yang jago Bahasa Inggris di kelas, karena aku suka sekali pelajaran bahasa. Bisa dibilang jago di semua pelajaran bahasa. Lalu, karena aku sadar aku memiliki keterbatasan source buat mengasah kemampuan bahasaku dan tidak ada biaya untuk les/kursus, pelan-pelan mimpi itu meredup lagi. Ditambah tinggi badanku yang juga tidak bertambah banyak, bahkan sampai SMA..aku tergolong pendek, jadi mimpi menjadi seorang pramugari rasanya harus aku matikan pelan-pelan. Bahkan saat ada sekolah aviasi yang beberapa kali promosi di kelas pun, aku masih excited untuk menyimak cerita mereka. Aku selalu ingin keliling dunia. Yup, travelling is my passion.
Jelang lulus SMP, aku menjadi pendengar setia EBS FM (radio anak muda Surabaya), sejak saat itu aku punya mimpi baru yaitu menjadi penyiar radio sambil jalanin kuliah. Sayangnya, orang tuaku lagi-lagi membunuh mimpiku, padahal waktu itu aku sudah merancang mimpi untuk masa kuliah juga. Gagal, karena aku diminta masuk SMK dan dengan jurusan yang tidak aku minati. Aku sangat ingin masuk broadcasting, dengan harapan kuliah di Ilmu Komunikasi. Sayangnya orang tua memintaku masuk jurusan Teknik Komputer Jaringan, yang sama sekali tidak membuatku tertarik. Bahkan saat kelas dua, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan siaran bareng di stasiun radio tersebut. Setidaknya aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi penyiar, meski hanya satu program. Selain menjadi penyiar, aku juga bermimpi bisa jadi PR atau humas. Saat ikut kepanitiaan pun aku sering menjadi humas dan aku selalu bersemangat melakukannya, seolah aku mempraktikkan mimpiku.
![]() |
| Penggalan lirik lagu "No More Dream" dari BTS. Lirik paling relate dengan hidup kita. |
Aku suka menulis sejak SMP, tapi tidak kepikiran jadi penulis. Maka dari itu aku coba peruntungan di jurusan tersebut. Lagi-lagi aku hidup tanpa mimpi, aku hanya menjalani hidup dengan mengalir dan biasa saja. Awal perkuliahan aku sempat bermimpi bisa melanjutkan kuliah di Cambridge atau Leiden, melanjutkan studi naskah lama, filologi. Baru setelah tahun ketiga/keempat kuliah aku punya mimpi baru, berkaitan dengan dunia kepenulisan dan sastra. Aku ingin menerbitkan buku, entah kumpulan puisi atau novel. Ada karya-karya yang sudah dimuat di media daring, buku antologi, media cetak—itu semua rasanya seperti mimpi kecil yang tercapai buatku. Aku sempat meragu dengan mimpi besarku.
Tiga bulan lalu aku mengenal Bangtan, selama itu pula aku merasa terbangun lagi untuk percaya dengan mimpiku. Melihat perjuangan mereka sejak awal sampai hari ini membuatku terinspirasi dan bersemangat untuk meraih mimpi seperti mereka yang tidak pernah berhenti berusaha. Tanggal 2 Februari kemarin akhirnya dengan tekad, nekat, dan berani aku menerbitkan kumpulan puisi pertamaku, meski masih secara digital dan mandiri. Mimpiku berikutnya "You" bisa dicetak secara fisik, terlebih ada ilustrasinya pula. Kalau bisa tahun ini, kalau tidak..ya kapanpun Semesta mengizinkan, hehehe. Mimpi lainnya yang berkaitan adalah entah kapan, suatu hari nanti aku ingin menggelar pameran individu, yang menampilkan foto-foto hasil jepretanku disertai tulisan-tulisanku dalam satu galeri.
Sementara, mimpiku dalam waktu dekat adalah aku bisa konsisten menulis dan aku sangat ingin tulisanku bisa membantu orang lain, menghibur, menyenangkan, dan menyembuhkan. Sebab, aku tidak ingin menulis untuk aku sendiri, tapi juga menghidupkan orang lain melalui tulisan. Itu mimpi yang kutulis di bio Wattpadku. Aku juga ingin di masa depan bisa membangun perpustakaan mini di rumah, yang bebas dikunjungi semua orang. Jauh sebelum kedai kopi menjamur seperti sekarang, aku sudah pernah memiliki rencana untuk membangun kedai kopi dengan nama yang sudah kusiapkan pula. Apakah cuma itu? Tidak, si pemimpi ulung ini juga ingin sekali mengembangkan Piloshopping nantinya.
Last but not least, aku bermimpi memiliki rumah singgah, aku juga sudah menyiapkan nama dan konsepnya bahkan. Menjadi ibu untuk anak-anak yang "dibuang" atau "tidak diinginkan" orang tuanya, itulah yang kupikirkan. Aku ingin menjadi rumah untuk mereka. Barangkali ini mimpi paling mustahil, tapi aku yakin Semesta mendukungku. Dari yang biasa sampai yang mustahil, yang nyala lalu redup, yang hidup lalu harus terpaksa "mati"—terlalu banyak mimpi yang keluar-masuk silih berganti menghidupiku. Karena mimpi-mimpi itulah yang membuatku bertahan hidup, merekalah "nyala lilin" di tengah ruang gelap yang mengurungku. Sementara, aku masih berusaha keluar dari labirin, keluar untuk menghirup udara bebas, dan menjalani mimpi dengan sebaik-baiknya.
Sekian cerita hari ini, bosan tidak? hahaha
Kalau tidak malas, mungkin aku bakal balik lagi dengan cerita yang ada di utas INDOMY BE A STAR, tapi kalau kalian mau tau sih. Kalau tidak ya tidak usah kali yaaa, hahaha. Sampai jumpa! 👋👋👋
HEY, IT'S A BONUS!
Shine, dream, smile!





Komentar
Posting Komentar