Aku dan Buku: Dari Bibliosmia, Tsundoku, dan Hal-hal Lainnya

sumber foto: Yahoo berita

Kebiasaan bacaku tumbuh sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, saat aku membaca novel karya Sefryana Khairil yang kupinjam dari teman sekelasku, Miya. Aku lupa berapa lama tepatnya aku menyelesaikan novel pertama yang kubaca itu.

Sumber: goodreads

Miya kemudian mengajakku dan beberapa teman lainnya untuk berkunjung ke perpustakaan daerah, tempat dia pun meminjam buku yang kupinjam. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari sekolahku, hanya satu kilo meter. Semenjak saat itu, hampir setiap hari Jumat atau Sabtu kami bersama-sama mengunjungi perpusda. Karena pada dua hari itulah kami pulang lebih awal daripada hari lainnya.

Pada kunjungan yang entah keberapa kalinya, kami memutuskan meminta formulir keanggotaan untuk membuat kartu tanda anggota. Persyaratan pembuatan KTA saat itu bagiku tergolong lebih mudah bagi pelajar. Kami hanya perlu meminta tanda tangan kepala sekolah di formulir tersebut. Sedangkan, kalau aku membuatnya saat sudah lulus dan dikategorikan pengunjung “umum", akan lebih sulit, sebab aku tidak ber-KTP Surabaya. Aku perlu surat rekomendasi atau semacamnya dari daerah asalku, aku lupa apa nama suratnya.

Bahwa aku memang baru benar-benar mengenal buku saat SMP. Saat SD buku yang kukenal hanya buku pelajaran, RPUL-RPAL, komik, kamus, buku peribahasa—yang entah tidak dapat kusebut sebagai bacaan yang bisa kunikmati. Aku pernah membaca salah satu serial komik Shinchan, tapi sepertinya aku tidak diciptakan sebagai seorang maniak komik, hahahaha. Di sekolah dasarku pun, perpustakaan yang ada saat itu tidak sepenuhnya ideal untuk disebut perpustakaan. Tidak ada buku yang menarik untuk dibawa pulang (re: dipinjam). Seingatku juga dulu tidak ada regulasi peminjaman, makanya kukatakan tidak ideal.

Aku pun hidup di tengah kondisi ekonomi yang biasa-biasa saja, cenderung menengah ke bawah. Orang tuaku tidak punya kebiasaan membaca, sehingga mereka juga tidak berinisiatif membelikan buku bacaan untukku. Sebab, pikirnya buku pelajaran saja sudah cukup untuk belajar. Aku pun segan untuk minta dibelikan buku, tapi pernah beberapa kali aku minta buku-buku yang diedarkan penjual di dalam bus, dalam perjalanan pulang ke kampung halaman. Aku kira dulu para asongan itu membagi-bagi buku gratis, ternyata itu cara mereka berjualan. Waktu itu aku masih SD, aku ingat sekali pernah membeli buku kamus kecil Bahasa Indonesia-Inggris dengan ilustrasi bersampul ungu gelap. Karena aku sangat suka mempelajari bahasa Inggris, jadi tidak membutuhkan waktu lama untukku tertarik membelinya. Saat hendak ditarik aku enggan mengembalikan, lalu ibuku membayarnya.

Semenjak mengenal buku dan rajin mengunjungi perpustakaan, aku juga punya hobi baru. Selain hobi meminjam buku, aku menjelma bibliosmia addict. Tentu saja merangkap bibliophile. Kebiasaan itu pun akhirnya tidak hanya terbawa saat ke perpustakaan, kadang juga ketika ke toko buku, aku akan mengecek bibliosmia pada buku yang kupegang. Para bibliophile tentunya paham betapa menyenangkannya bibliosmia, apalagi pada buku cetakan lama yang khas dengan kertas buramnya. Aroma buku pun menjadi salah satu aroma yang masuk ke dalam daftar candu untukku.

Saat mulai menjalani hidup sebagai mahasiswa, aku mulai lebih sering lagi mengunjungi toko buku. Sebab, tentu saja banyak buku yang mesti dicari untuk keperluan perkuliahan. Selain itu, aku pun mendapat uang beasiswa yang akhirnya banyak kualokasikan ke buku. Entah buku untuk perkuliahan atau buku bacaan pribadi untuk koleksi. Dari buku-buku bekas sampai baru, dari toko buku luring sampai daring.

Meskipun aku rajin membeli buku setiap bulannya sebagai salah satu hal wajib, aku juga tetap pergi ke perpustakaan, untuk meminjam buku. Aku sengaja mewajibkan diri belanja buku setiap bulannya untuk investasi masa depan, karena kemungkinan besar buku-buku itu tidak kujual. Sekalipun kujual pasti hanya sedikit dan ketika terdesak karena butuh uang.

Kemudian aku menyadari bahwa aku telah menjadi tsundoku. Pasalnya buku-buku yang kubeli hanya kutimbun di rumah, kusimpan, entah kapan akan kubaca. Karena aku selalu pergi ke perpustakaan, tentu saja untuk meminjam buku yang belum aku punya, sudah sulit dicari di pasaran, ataupun juga belum mampu kubeli. Aku pun berpikir bahwa buku-buku di rumah bisa bebas kubaca kapanpun. Sedangkan untuk perpustakaan, mereka punya keterbatasan waktu untukku. Misalnya hari libur, atau bisa saja aku tidak sempat ke sana dalam waktu yang lama. Meminjamnya pun ada tenggat waktu tentunya dan belum lagi jika buku itu adalah buku yang banyak dicari, sehingga harus “rebutan" dengan anggota lain.

Sumber: blog.derbylibrary.com 

Membaca memang secandu itu. Sampai akhirnya aku juga menemui istilah reading slump. Sejujurnya menurutku ini fase paling menyebalkan, saat kita benar-benar tak ada gairah membaca. Sebetulnya dalam diri sangat ingin tetap punya bacaan, tapi sisi lain dalam diri juga menolak. Mati-matian membaca satu kalimat berulang-ulang pun tetap gagal paham. Seperti itulah gambaran saat reading slump. Aku pun belum menemukan cara untuk mengatasinya.

Aku juga pelahap berbagai genre. Yang mana yang membuatku tertarik, aku baca. Dari topik dan judul sih utamanya. Karena bagiku fiksi ataupun nonfiksi, genre apa pun itu pastilah mengandung wawasan yang bakal berguna banget buat kita yang tidak tahu apa-apa. Namun, aku juga sangat percaya bahwa dengan buku pun ada istilah “jodoh". Maksudnya, kita bertemu suatu buku lalu membacanya itu karena kita memang ditakdirkan berjodoh dengan buku itu. Yang dengan buku itu, bisa jadi kita akan menghasilkan sesuatu. Tidak harus sesuatu yang besar dan berguna untuk orang lain. Paling tidak untuk diri sendiri dan kita juga tidak bisa memaksakan diri “berjodoh" dengan suatu buku.

Aku harap suatu saat nanti aku bisa betah membaca buku digital, jika pada waktunya buku fisik harus “dimusnahkan" atau zaman sudah sangat mengandalkan buku digital. Jujur saja, aku masih membiasakan diri dengan meminjam buku di Ipusnas belakangan ini. Yah setidaknya dalam satu bulan aku bisa menamatkan dua buku digital, fiksi dan non-fiksi. Sekira empat tahun yang lalu, aku sudah pernah mencoba membaca buku digital yang kudapat dari dosenku, aku tidak betah. Mataku terlalu perih untuk membaca layar ponsel dalam waktu yang lama.

Sebagai bibliophile, tentu saja aku juga punya angan-angan tentang perpustakaan impian di dalam rumah. Meski entah kapan akan terwujud, aku jelas sudah pernah mencari referensi untuk interiornya. Sebuah ruangan baca khusus dengan rak yang memuat banyak buku, sofa yang nyaman, dan dilengkapi jendela besar untuk melihat ruang terbuka hijau. Kira-kira seperti demikian:

Sumber: 7btin.net

Kalau kamu, bagaimana ceritamu dengan buku?

Komentar

Postingan Populer